Oleh:
Safir Senduk
Dikutip dari
Tabloid
NOVA No. 671/XIII Kini kita telah memasuki Tahun Baru, tahun 2001. Banyak orang yang menggunakan momen Tahun Baru untuk merenung dan menetapkan tujuan-tujuan yang ingin dicapainya. Banyak orang yang menetapkan niat untuk bisa menjadi lebih baik.
Apakah Anda termasuk di antara mereka yang suka merenung dan menetapkan tujuan serta menetapkan niat untuk menjadi lebih baik pada Tahun Baru?
Bila jawabnya ya, maka saya minta Anda melihat kembali hal-hal apa saja yang sudah Anda niatkan tersebut. Mungkin pada tahun ini Anda ingin memperbaiki hubungan dengan orang tua Anda. Mungkin pada tahun ini Anda ingin memberikan anak-anak Anda piknik yang lebih banyak ke luar kota. Mungkin pada tahun ini Anda ingin punya hubungan yang lebih harmonis dengan istri Anda. Atau mungkin, Anda berpikir untuk mencari penghasilan tambahan dengan mencari pekerjaan sampingan atau menjalankan usaha sampingan.
Pertanyaan saya, apakah keuangan adalah salah satu hal yang sudah Anda persiapkan pada tahun 2001 ini? Apakah pada tahun lalu Anda selalu mengalami masalah dalam pengelolaan keuangan keluarga Anda? Ada masalah atau tidak, sudah saatnya Anda menetapkan sistem pengelolaan keuangan yang baru di Tahun 2001 ini.
Bila Anda ingin mempersiapkan keuangan Anda secara lebih baik pada Tahun 2001 ini, maka saya punya tips yang mungkin berguna untuk bisa Anda terapkan di keluarga Anda. Dengan demikian, mudah-mudahan dengan sistem baru ini Anda bisa mengelola keuangan keluarga Anda dengan lebih baik dan lebih mudah.
1.
Mulai
sekarang, biasakan membayar pengeluaran rutin keluarga hanya dari penghasilan
rutin yang masuk. Maksudnya begini, bila keluarga Anda selalu mendapatkan
penghasilan secara rutin sebesar Rp 1 juta per bulan, kemudian pengeluaran
rutin keluarga adalah sebesar Rp 900 ribu per bulan, maka sebaiknya Anda
membiayai pengeluaran rutin itu dari uang Rp 1 juta tadi. Dengan demikian,
anggaran Anda senantiasa akan berimbang.
2.
Kalaupun
ada pengeluaran yang posnya diluar anggaran (pengeluaran yang sifatnya tidak
rutin atau mendadak), sebaiknya jangan menggunakan uang dari penghasilan rutin
Anda. Lalu dari mana? Gunakanlah uang tabungan yang Anda miliki. Sebagai
contoh, kalau Anda akan membeli radio tape (di mana pembelian barang elektronik
biasanya tidak rutin dilakukan dan di luar anggaran), maka jangan membayarnya
dengan menggunakan uang pemasukan rutin Anda yang Rp 1 juta, tapi ambillah dari
persediaan tabungan yang Anda miliki.
Dengan
demikian, pemasukan rutin Anda hanya digunakan untuk membayar pengeluaran
rutin. Dengan cara ini, tidak akan ada lagi yang namanya kebobolan anggaran.
Perlu Anda tahu, bobolnya anggaran seringkali disebabkan karena adanya pos
pengeluaran yang tidak ada sebelumnya di dalam anggaran. Jadi, kalau ada
pembelian sesuatu di luar anggaran, tetap jangan bobol pemasukan rutin Anda.
Manfaatkan persediaan uang simpanan yang Anda miliki.
3.
Bila
Anda tidak memiliki persediaan uang untuk membayar pengeluaran yang diluar
anggaran (seperti yang disyaratkan dalam nomor 2 di atas), tidak ada jalan lain
yang lebih aman selain menunda dulu pengeluaran tersebut. Dalam contoh di atas,
ini berarti Anda perlu menunda terlebih dahulu pembelian radio tape Anda, dan
mungkin harus menabung terlebih dahulu selama beberapa bulan sampai Anda bisa
mengumpulkan tabungan cukup untuk dapat membeli radio tape itu.
4.
Mulai
sekarang, persiapkan dana pendidikan untuk anak Anda. Entah dengan menabung
secara rutin setiap bulan, atau dengan mengambil asuransi pendidikan. Masukkan
setoran tabungan rutin untuk persiapan dana pendidikan anak tersebut ke dalam
komponen pengeluaran Anda.
5.
Tetapkan
juga niat untuk memiliki dana cadangan. Guna dana cadangan adalah untuk
mempersiapkan diri apabila sumber penghasilan dalam keluarga Anda mengalami
masalah sehingga tidak bisa bekerja (seperti terjadinya PHK atau kebangkrutan
usaha, misalnya). Dengan demikian, apabila suami Anda atau Anda di-PHK, atau
bangkrut dalam usahanya, maka dana cadangan tersebut bisa digunakan untuk hidup
keluarga Anda selama beberapa bulan ke depan. Mungkin selama 3, 6, 9, hingga 12
bulan ke depan, setidaknya sampai ada sumber penghasilan yang tetap lagi.
Saya
memang tidak pernah bosan-bosannya mengingatkan tentang pentingnya dana
cadangan ini, sebab keberadaan dana cadangan sangatlah penting. Seberapa pun
besarnya penghasilan dalam keluarga Anda, bila tidak ada dana cadangan, maka
sistem keuangan dalam keluarga Anda amatlah rentan.
6.
Bila
Anda belum memiliki asuransi, sebaiknya segera ambil asuransi. Sebagai contoh,
kalau Anda punya rumah, ambil asuransi rumah. Dengan demikian, kalau rumah Anda
terbakar, Anda akan mendapatkan santunan asuransi yang bisa digunakan untuk
membangun kembali rumah Anda. Kalau Anda punya kendaraan, ambil asuransi
kendaraan. Dengan demikian, bila mobil Anda mengalami rusak akibat kecelakaan,
Anda akan mendapatkan penggantian untuk mereperasi kendaraan Anda. Kalau Anda
punya tanggungan, ambil asuransi jiwa. Dengan demikian, apabila Anda (atau
suami Anda) meninggal dunia, maka suami Anda atau Anda akan mendapatkan
santunan yang cukup untuk bisa digunakan membiayai tanggungan yang
ditinggalkan.
Bila
keluarga Anda tidak diberi penggantian biaya kesehatan dari tempat kerja suami,
tidak ada salahnya Anda mengambil asuransi kesehatan. Prinsipnya disini,
pindahkan risiko-risiko seperti ini ke perusahaan asuransi. Dengan demikian,
kalau keluarga Anda mengalami risiko-risiko yang bisa menimbulkan kerugian
keuangan, keluarga Anda tidak perlu membayarnya. Asuransilah yang akan
menanggungnya.
7. Tabungkan semua uang
logam Anda. Jangan pernah menggunakan uang logam Anda untuk membayar transaksi,
tapi tabungkan saja semuanya ke dalam celengan. Dengan demikian, Anda akan
"dipaksa" untuk menabung. Saya tahu, menabung di celengan terkesan
seperti anak kecil, tapi sampai sekarang saya percaya bahwa celengan bisa
membantu dan "memaksa" Anda menabung. Cara seperti ini bisa dikatakan ampuh untuk orang dari segala umur.
8.
Pikirkan
untuk mencari penghasilan tambahan. Kenapa Anda tidak mencoba menjalankan
sebuah bisnis sampingan? Kalau selama ini Anda dan suami Anda bekerja, maka
cobalah untuk juga menjalankan bisnis sampingan. Kalau bisnis tersebut menjadi
besar kelak dan bisa memberikan pendapatan yang lumayan, maka Anda dan suami
Anda akan punya alternatif untuk bekerja dan menjalankan bisnis secara
bersamaan, atau mungkin malah terjun secara total 100% ke dalam bisnis
tersebut. Siapa tahu?
Selamat Tahun Baru
2012. Semoga tahun ini segalanya akan berjalan lebih baik untuk Anda dan
keluarga Anda, termasuk dalam masalah pengelolaan keuangan di keluarga Anda.
Komentar
Posting Komentar